“NYEPUT”
Senin, 11 November 2019 Saya kembali
melakukan perjalanan bersama sembilan orang rekan saya ke tempat yang berbeda dari
tempat saya mencari naskah kuno beberapa minggu lalu. untuk perjalanan kali ini kami pergi ke Desa Bunjeruk,
Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Tetapi perjalanan kali ini bukan mencari
naskah kuno, melainkan untuk mengenali dan memahami salah satu tradisi Sasak.
Kami berangkat dari Mataram sekitar
pukul 04:15 menit, dan menempuh perjalanan hampir satu jam. Sesampainya disana
kami bertemu dengan bapak Hasan dan bapak Sahdi yang merupakan salah satu tokoh adat yang
terkenal di daerah itu. rupanya mereka juga sudah mempersiapkan dua naskah
yaitu naskah Rengganis dan naskah Juwarsih. Karena sebelumnya, kami sudah mengonfirmasi
terlebih dahulu terkait dengan kedatangan dan tujuan kami kesana yang tidak
lain ingin mengenal lebih jauh tentang salah satu tradisi Sasak yang disebut
dengan “nyeput atau bejeput”. Nyeput
atau bejeput merupakan salah satu tradisi
Sasak yang tidak banyak di ketahui oleh masyarakat Sasak pada umumnya. Bahkan
saya sendiri yang merupakan keturunan asli sasak pun baru mengetahui tradisi
ini dari salah seorang dosen pengampu mata kuliah filologi. Sejak awal beliau
menceritakan tentang nyeput atau bejeput saya mulai tertarik untuk mengetahui dan
mempelajari lebih jauh tentang tradisi ini.
Sebelum melakukan tradisi nyeput atau
bejeput kami mempersiapkan andang-andang sebagai syarat dalam tradisi ini. Nyeput
atau bejeput ini dilakukan dengan cara memasang niat terlebih dahulu, kemudian penyeput
diminta untuk menutup mata sembari mengambil salah satu bagian dari lontar.
Selanjutnya pemaos (pembaca) membacakan isi dari naskah yang diambil oleh
penyeput, dan disusul dengan penerjemahannya yang di terjemahkan oleh ahlinya.
Terakhir di lanjutkan dengan pemaknaan bagian dari naskah, yang tentunya juga di
lakukan oleh orang yang ahli dalam bidang tersebut. jadi, pada saat prosesi nyeput
ada 3 tokoh yang mendampingi kita yang memiliki peran yang berbeda-beda yaitu
sebagai pemaos (pembaca), sebagai penerjemah, dan sebagai pemakna. Adapun untuk hasil seputan itu biasanya meggambarkan
perjalanan cinta, kehidupan, karakter dari penyeput. Misalnya saja kemarin pada
saat saya melakukan penyeputan saya mendapakan tembang asmarandane, takepan
juwarsih yang menggambarakan karakter saya. Namun, terlepas itu benar atau
tidaknya kita tidak boleh terlalu mempercayainya karena itu hanyalah tradisi yang
di wariskan oleh nenek moyang. Dan kembali lagi kepada tujuan awal kami
melakukan ritual ini tidak lain untuk mengenal lebih jauh tradisi yang
tinggalkan oleh leluhur kami khususnya saya sebagai keturunan asli Sasak .


Mantul
BalasHapusKembali ke diri pribadi, apapun hasilnya semoga dapat dijadikan pelajaran dan pengalaman hidup yang berharga.
BalasHapusMenginspirasi 😊
MasyaAllah ukhty.
BalasHapusSemoga bermanfaat
BalasHapusTyponya banyak. Ketauan dikejar deadline wkwk
BalasHapusWkkew keliatan ya😁
Hapusdi suruh komen sama sunset kuyy
BalasHapusSunsetmu yang mana dulu ini😂
HapusKeren..
BalasHapusTeruskan,, biar generasi Sasak pada tau
BalasHapusBagus ,semoga bisa menjadi pelajaran
BalasHapusMenarik semoaga bermanfaat bagi kita semua
BalasHapusMenarik semoaga bermanfaat bagi kita semua
BalasHapusMenarik semoaga bermanfaat bagi kita semua
BalasHapusye wh aneh arik..😁😁
BalasHapusKarakter hmm...
BalasHapusBetul. Anggap saja itu sebagai peringatan.
BalasHapusBagus
BalasHapus