Budaya adalah identitas suatu daerah yang harus di jaga dan
di lestarikan. Seperti halnya naskah kuno yang merupakan salah satu warisan
nenek moyang yang mengandung nilai-nilai budaya yang luar biasa di dalamnya.
Hal tersebut merupakan salah satu alasan penulis tertarik melakukan perjalanan
untuk mencari daerah-daerah yang masih menyimpan naskah kuno.
Berikut cerita singkat penulis terkait dengan pengalaman
dalam mencari naskah kuno dan nilai-nilai apa saja yang terkandung di dalam
naskah-naskah itu sendiri.
Perjalanan mencari naskah ini saya lakukan bersama tiga teman
saya, tepatnya pada hari selasa, 22 Oktober 2019. Kami melakukan perjalanan
sekitar pukul 08:30 karena berhubung tempat yang menjadi tujuan kami yaitu Desa
Ketare, kec. Pujut, Lombok Tengah cukup jauh dan membutuhkan waktu sekitar
40-45 menit.
Beberapa menit berlalu kami pun sampai pada tujuan yaitu Desa
Ketare, kec. Pujut, Lombok Tengah. Namun, sebelum berangkat kami tidak lupa
melakukan doa bersama di kos agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Sesampainya disana kami langsung ke kantor desanya, karena salah seorang teman
saya kebetulan kenal dengan orang yang mejaga naskah itu, dan orang tersebut
adalah sekertaris desa di daerah itu. Setelah samapai disana kami disambut oleh
bapak kepala Desa, sekertaris Desa, dan beberapa tokoh masyarakat lainnya
kemudian di persilahkan masuk ke ruangan khusus tamu, disana kami di pertemukan
dengan Lalu Mustaan (mamiq Mustaan) beliau adalah salah satu tokoh adat NTB
sekaligus menjabat sebagai sekertaris Desa di tempat itu. Beliau memiliki
beberapa asrat lontar yaitu; Bandarsile, Banbali, Rengganis, Jati suare, Dulang
Mas, Jabalkab, dan masih banyak lagi. Namun, kami hanya dibacakan dan di
ceritakan sedikit tentang asrat lontar jabalkab yang menceritakan datu jabalkab
dan jayeng rane saja. “karena sehari saja tidak cukup untuk menceritakan isi
dari asrat lontar tersebut” (ujar beliau). Selain itu naskah tersebut konon
katanya di gunakan sebagai pedoman hidup pada masa lampau. Akan tetapi menurut
saya naskah itu juga bisa di gunakan sebagai pedoman hidup sampai sekarang.
Karena di dalam naskah itu banyak pesan moral atau nilai-nilai yang bisa di
jadikan pelajaran dalam kehidupan saat ini. Misalnya saja dalam asrat lontar
tersebut terdapat pengajaran dari segi agama dan akhlak kita di ajarkan
bagaimana cara berpakaian, tolong menolong, cara bertutur kata yang sopan,
bertingkah laku yang baik, dan tidak boleh mendahului kuasa Tuhan. Kemudian
dari segi pemerintahan kita di ajarakan bagaimana cara menjadi pemimpin yang
adil, bijaksana sehingga mampu mensejahterakan rakyat.
Setelah kami di jelaskan panjang lebar tentang naskah
jabalkab tersebut, ada salah seorang teman saya bertanya “kenapa bapak mau
menjaga naskah ini, dan apa untungnya bagi bapak sendiri? Beliau menjawab” saya
bangga bisa menjaga dan merawat naskah ini, dan dengan begitu saya juga bisa
mengajarkan kepada kalian terutama sebagai generasi penerus terkait
dengan isi dari naskah-naskah itu, dengan harapan kalian bisa mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari dan bisa menjaga kelestarian budaya yang di
wariskan oleh nenek moyang kita.
1.1 naskah jabalkab
1.2
foto bersama mamiq Mustaan

